Minggu, 14 Maret 2010

Jenis Sistem Pertanian dalam Konsep Pertanian Berkelanjutan

Ada beberapa sistem pertanian yang termasuk dalam lingkup pertanian berkelanjutan (sustaniable agriculture) yaitu:

1. Sistem pertanian berinput rendah (low input farming system)
Sistem ini bertolak dari fakta bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh banyaknya jumlah input yang digunakan petani. Juga karena tingginya biaya produksi pertanian. Dengan sistem ini petani menggunakan seminimal mungkin jumlah input (pupuk, pestisida, bahan bakar, tenaga kerja, uang) sehingga biaya produksi pun dapat ditekan sekecil mungkin. Demikian juga dengan efek negatif bahan-bahan input tersebut ke lingkungan menjadi lebih kecil.

2. Sistem pertanian regenerative
Prinsip dalam sistem ini adalah memberikan kesempatan pada lahan untuk meregenarasi (memperbaiki) dirinya sendiri setiap selesai panen.
Cara yang digunakan adalah dengan menambahkan pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk hijau ke tanah setiap selesai panen.
Sistem ini mendukung sistem pertanian low input (point 1 diatas). dengan penambahan pupuk organik setelah panen, maka kesediaan hara tanah lebih banyak dan petani hanya perlu memberikan input tambahan yang diperlukan saja.

3. Sistem Pertanian biodynamic
Sistem ini masih banyak diterapkan oleh petani-petani di Jerman. Sepengalaman saya, sistem ini adalah sistem yang paling berat, paling rumit, paling butuh banyak ilmu pengetahuan dan skill, namun sangat ramah lingkungan dan produknya pun sangat sangat sehat. Tingkatannya adalah paling tinggi diantar semua jenis pertanian ramah lingkungan bahkan diatas sistem pertanian organik.
Prinsip dalam pertanian ini adalah memobilisasi mekanisme biologis tanah. Petani bekerja sama dengan organisme tanah misalnya bakteri dan cacing tanah yang bekerja memecah bahan organik menjadi unsur hara yang berguna dan tersedia bagi tanaman.
Sistem ini sama sekali tidak menggunakan bahan kimia apapun.

4. Sistem pertanian organic.
Prinsip dalam sistem ini adalah mengharamkan penggunaan bahan kimia apapun jenisnya mulai dari pemilihan benih sampai pasca panen. Di Eropa, sistem pertanian organik adalah sistem yang paling cepat pertumbuhannya dewasa ini karena sistem ini didukung oleh pemerintah dan universitas-universitas utama Eropa. Demikian juga dengan rakyat Eropa yang makin sadar kesehatan dan lingkungan.
Di Indonesia sendiri, dalam pengamatan saya sistem ini sangat lambat pertumbuhannya. Sikap pemerintah yang menganaktirikan pertanian adalah faktor utamanya selain kemampuan daya beli masyarakat yang masih tergolong rendah. Namun faktanya sejumlah supermarket besar mengimpor produk organik dari negara luar seperti australia, jepang, dll. Ini menunjukkan bukti bahwa pasar organik Indonesia masih terbuka.

5. Sistem pertanian Konservasi
Prinsipnya adalah mengkonservasi sumberdaya yang telah tersedia di lahan pertanian misalnya peningkatan sumber daya saluran air, sudut kemiringan tanah, kontur, ketebalan topsoil agar senantiasa ditingkatkan kualitasnya.

6. Hidroponic
Yaitu sistem pertanian yang memisahkan tanah dari tanaman. Sistem ini mengontrol sepenuhnya pertumbuhan tanaman baik dari segi hara, suhu, cahaya dll. Hidroponik bukan sistem pertanian yang alami, karenanya sistem ini diharamkan dalam sistem pertanian organik. Keuntungan sistem ini adalah penghematan dalam luas lahan dan penggunaan pestisida. Namun dibutuhkan lebih banyak nutrient, tenaga kerja, energi dan biaya. Sistem ini adalah penyumbang kerusakan lingkungan terbesar dibanding sistem pertanian lainnya karena penggunaan energy untuk menghangatkan/mendinginkan ruangan.

7. Polikultur (polycultures)
Polikultur adalah lawan dari sistem pertanian monokultur. sistem ini muncul karena akibat negatit penerapan monokultur misalnya meledaknya hama dan penyakit hingga menyebakan kegagalan panen total.
dalam sistem polikultur, petani mengusahakan banyak jenis dan varitas baik tanaman maupun ternak.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes